Bagi investor, mengetahui cara menghitung average down saham bisa menjadi strategi ampuh untuk menurunkan harga rata-rata pembelian saham saat harga sedang turun. Dengan perhitungan yang tepat, kamu dapat memperbesar peluang mendapatkan keuntungan saat harga kembali naik. Yuk, pahami panduan lengkapnya di bawah ini!
Baca juga: Apa Itu Dividen Trap? Pengertian dan 5 Cara Menghindarinya!
Apa Itu Average Down Saham?
Average down saham adalah strategi investasi yang dilakukan dengan membeli lagi saham yang sudah kamu miliki ketika harganya turun. Tujuan utama dari average down adalah untuk menurunkan harga rata-rata perolehan saham kamu.
Jadi, ketika kamu membeli saham tambahan di harga yang lebih rendah, rata-rata harga pembelianmu otomatis menjadi lebih kecil. Hal ini diharapkan membuatmu lebih mudah untuk meraih keuntungan ketika harga saham mulai naik di kemudian hari.
Misalnya, kamu membeli saham dengan harga Rp10.000 per lembar, lalu harganya turun menjadi Rp8.000. Kamu kemudian membeli lagi di harga Rp8.000.
Dengan begitu, harga rata-rata pembelian sahammu akan turun, dan ketika harga kembali naik, kamu berpotensi bisa memperoleh keuntungan lebih cepat dibandingkan jika hanya mengandalkan pembelian pertama saja.
Baca juga: 7 Cara Menghitung Harga Wajar Saham: Rumus dan Contohnya!
Cara Menghitung Average Down Saham
Cara menghitung average down saham adalah langkah penting untuk menentukan harga rata-rata baru setelah kamu melakukan pembelian tambahan ketika harga saham turun.
Dengan perhitungan ini, kamu bisa mengetahui di harga berapa kamu sebenarnya memperoleh saham tersebut secara rata-rata, yang nantinya membantu kamu dalam merencanakan kapan harus menjual saham untuk mendapatkan keuntungan.
Rumus average down saham adalah sebagai berikut:
Average down = ((harga1 x lot1) + (harga2 x lot2) + (harga3 x lot3) +…)/total lot
Contoh Perhitungan Average Down Saham
Mari kita coba langsung cara menghitung average down saham yang benar dengan contoh sederhana. Misalkan, kamu memiliki saham perusahaan X yang harganya sedang turun, dan kamu melakukan pembelian di beberapa harga berbeda sebagai berikut:
Baca juga: 10 Daftar Saham Bank di Indonesia yang Cocok Untuk Investasi
- Pembelian pertama: 150 lot dengan harga Rp2.000 per lembar
- Pembelian kedua: 100 lot dengan harga Rp1.500 per lembar
- Pembelian ketiga: 250 lot dengan harga Rp1.200 per lembar
Dengan data ini, kita bisa menghitung average down sahamnya.
Average down = ((2.000 x 150) + (1.500 x 100) + (1.200 x 250))/150 + 100 + 250
Langkah perhitungannya:
- Hitung total nilai pembelian:
- (2.000 × 150) = Rp300.000
- (1.500 × 100) = Rp150.000
- (1.200 × 250) = Rp300.000
- Jadi, total pembelian = Rp300.000 + Rp150.000 + Rp300.000 = Rp750.000
- Hitung total lot yang dibeli: 150 + 100 + 250 = 500 lot
- Masukkan ke dalam rumus average down:
Average down = 750.000/500 = Rp1.500
Jadi, harga rata-rata per lembar saham yang kamu miliki setelah melakukan average down adalah Rp1.500. Dengan strategi average down saham ini, kamu bisa menurunkan harga rata-rata pembelian dan mempersiapkan diri untuk meraih keuntungan saat harga mulai naik kembali.
Strategi Average Down Saham
Melakukan average down saham tidak hanya soal perhitungan, tapi juga strategi yang tepat. Dengan analisis fundamental, pemahaman terhadap sentimen pasar, dan menetapkan batas risiko, kamu bisa memaksimalkan manfaat dari strategi ini. Mari kita lihat lebih dalam bagaimana cara menerapkan strategi average down dengan efektif!
Baca juga: 8 Gaya Investasi Untuk Pemula yang Bisa Kamu Coba!
1. Lakukan Analisis Fundamental Mendalam
Sebelum memutuskan untuk melakukan average down, penting untuk memahami secara menyeluruh fundamental perusahaan tempat kamu berinvestasi. Dengan mengenal potensi dan kinerja perusahaan, kamu bisa membedakan apakah penurunan harga yang terjadi hanya bersifat sementara atau bagian dari tren penurunan yang lebih serius.
Analisis fundamental ini membantu kamu menilai apakah strategi average down tepat digunakan atau sebaiknya ditunda.
2. Amati Sentimen Pasar Secara Keseluruhan
Selain memeriksa faktor internal perusahaan, penting juga untuk melihat kondisi pasar secara keseluruhan. Terkadang, sentimen pasar luas, seperti perubahan kebijakan ekonomi atau isu global, dapat memengaruhi harga saham.
Dengan memahami sentimen ini, kamu bisa lebih bijaksana dalam mengantisipasi pergerakan harga dan menentukan titik beli tambahan yang optimal. Analisis grafik harga, level support dan resistance, serta tren teknikal lainnya juga bisa sangat membantu dalam menentukan waktu yang tepat dalam melakukan average down.
3. Tetapkan Batas Risiko
Untuk menghindari potensi kerugian besar, tentukan batas risiko yang jelas sebelum melakukan average down. Misalnya, kamu bisa menentukan pada harga berapa kamu akan berhenti membeli tambahan saham atau kapan akan menjual jika tren penurunan berlanjut.
Batasan ini mencegah kamu dari over-trading dan menjaga kontrol emosi saat berinvestasi, yang pada akhirnya melindungi modal kamu dari kerugian lebih lanjut.
Dengan strategi average down saham yang tepat, kamu bisa menurunkan harga rata-rata pembelian sambil tetap berhati-hati menghadapi volatilitas pasar.
Sudah Tahu Soal Average Down Saham?
Nah, itu dia penjelasan lengkap soal cara menghitung average down saham yang benar serta strategi untuk melakukannya. Jadi, kamu tertarik untuk average saham di portofolio kamu nggak, nih?
Yuk, lanjut baca tulisan seputar keuangan lainnya dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti di blog cerdascuan.com sekarang juga!