Harga wajar saham menjadi salah satu cara menilai saham yang sangat populer di kalangan para value investor. Tanpa mempertimbangkan grafik harga, metode ini membuat pertimbangan investasi berdasarkan data pada laporan keuangan. Nah, jika Kawan Cerdas penasaran dengan cara menghitung harga wajar saham, simak penjelasan lengkap berikut ini!
Baca juga: 12 Aplikasi Saham Terbaik OJK: Aman dan Cocok Untuk Pemula!
Cara Menghitung Harga Wajar Saham
Dalam pasar saham, harga sebuah saham tidak selalu mencerminkan nilai sesungguhnya dari perusahaan tersebut. Karena itu, investor perlu melakukan analisis fundamental untuk menentukan apakah harga saham sebuah perusahaan terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Harga wajar saham adalah harga yang seharusnya mencerminkan nilai intrinsik atau nilai sebenarnya dari perusahaan. Ini digunakan sebagai patokan untuk menentukan apakah sebuah saham dihargai murah atau mahal. Berikut ini adalah beberapa metode perhitungan yang bisa Kawan Cerdas gunakan!
Baca juga: 1 Lot Saham Berapa Lembar? Ini Arti, Contoh, dan Tujuannya
1. Earning per Share (EPS)
Earning per Share (EPS) adalah cara menghitung harga wajar saham pertama yang bisa Kawan Cerdas gunakan. Metode ini akan menilai kinerja perusahaan dengan membagi laba bersihnya dengan jumlah saham yang beredar. Namun, perlu diketahui bahwa nilai EPS yang dianggap wajar bisa bervariasi tergantung pada industri dan faktor-faktor lainnya.
Sebagai contoh, pada 26 April 2024 harga saham BBCA adalah Rp9625 dan EPS-nya adalah Rp417.91, maka harga wajar sahamnya dapat dihitung dengan membagi harga saham dengan EPS, sehingga:
Harga wajar saham = 9625/417.91
Harga wajar saham = Rp23
Dari contoh tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa harga saham dianggap seimbang ketika EPS-nya dapat dipertahankan. Jika harga saham saat ini lebih rendah dari harga wajar saham, maka saham dianggap murah dan layak untuk dibeli.
2. Price to Book Value (PBV)
Price to Book Value (PBV) adalah cara menghitung harga wajar saham favorit para pelaku value investing. Metode ini dianggap efektif dalam menemukan saham potensial, terutama saham yang sedang mengalami perubahan atau belum mencatat laba.
PBV mengukur nilai wajar suatu perusahaan terhadap harga sahamnya, memberikan gambaran potensi perolehan laba di masa mendatang. Secara umum, PBV yang rendah (di bawah 1x) menunjukkan bahwa harga saham relatif murah.
Baca juga: Dividen Saham: Definisi, Cara Menghitung, dan Saham Terbaik
Rumus PBV:
PBV = Harga saham/Book Value per Share (BVPS)
Sebagai contoh, pada 26 April 2024, saham BBRI diperdagangkan seharga Rp4830 per lembar. Dari laporan keuangan Q1, diketahui nilai buku per lembar perusahaan tersebut adalah Rp1933,22. Maka, PBV-nya dapat dihitung sebagai berikut:
PBV = 4830/1933,22
PBV BBRI = 2,5x
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa saham BBRI berdasarkan PBV-nya tergolong mahal. Namun, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, kamu juga bisa membandingkan saham BBRI dengan PBV bank lainnya yang ada di IHSG.
3. Price To Earnings Ratio (PER)
Tak kalah populer, metode Price To Earnings Ratio (PER) juga banyak digunakan oleh investor untuk mengetahui harga wajar suatu saham. Metode ini bekerja dengan membandingkan harga saham per lembar dengan pendapatan per lembar yang dihasilkan oleh perusahaan.
Baca juga: Apa Itu Rights Issue Saham? Definisi, Contoh, dan Tujuannya
PER memberikan gambaran tentang berapa banyak investor yang harus membayar untuk setiap unit pendapatan yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan kata lain, semakin tinggi PER, semakin mahal harga saham tersebut.
PER = Harga Saham/Laba rugi per Saham (EPS)
Kemudian, untuk mengetahui apakah suatu saham dihargai secara wajar atau tidak, Kawan Cerdas bisa membandingkan PER saham tersebut dengan PER rata-rata dari saham-saham lain di industri yang sama.
Jika PER-nya lebih besar dari rata-rata, maka saham tersebut bisa dianggap terlalu mahal (overvalued). Sebaliknya, jika PER-nya lebih kecil dari rata-rata, maka saham tersebut bisa dianggap undervalued.
Sebagai contoh, pada 26 April 2024, saham TLKM diperdagangkan dengan harga Rp3.030 per lembar. Kemudian, diketahui bahwa TLKM memiliki laba rugi per saham (EPS) sebesar Rp244.41, maka PER nya adalah sebagai berikut:
PER = 3030/244,41
PER = 12,39
Diketahui, PER saham lain di industri yang sama adalah 17,42. Maka bisa disimpulkan bahwa dilihat dari sudut pandang PER, TLKM masih tergolong undervalued.
4. Price Earning to Growth Ratio (PEG)
Price Earning to Growth Ratio (PEG) adalah cara untuk menilai harga wajar saham dengan membandingkannya dengan pertumbuhan laba per lembar saham. PEG dapat dijelaskan sebagai perbandingan antara Price to Earning Ratio (PER) dan pertumbuhan Earning per Share dalam satu tahun.
Semakin rendah nilai PEG, semakin baik karena menunjukkan bahwa harga saham relatif murah. Untuk menghitung nilai wajar saham menggunakan metode PEG, kita menggunakan rumus:
Baca juga: Underwriter Saham: Pengertian dan Fungsi Lengkapnya!
PEG = PER / Pertumbuhan EPS Tahunan
Misalnya, pada 26 April 2024, saham BMRI memiliki PER sebesar 11,44x dan pertumbuhan EPS sebesar 9,6%, maka nilai wajarnya dapat dihitung sebagai berikut:
PEG = 11,44/9,6
PEG BMRI = 1,19
Dalam contoh tersebut, PEG lebih dari 1, menunjukkan bahwa saham tersebut dinilai mahal.
5. Dividend Yield (DY)
Metode Dividend Yield digunakan untuk mengetahui persentase dividen yang diterima investor dengan membandingkan rasio dividen per saham dengan harga saham. Semakin tinggi Dividend Yield (DY), semakin besar pula dividen yang diterima.
Misalnya, pada 26 April 2024, saham ASII memiliki DY sebesar 13,32%, sementara rata-rata industrinya hanya memiliki DY sebesar 3,33%. Berdasarkan data tersebut, maka ASII bisa dipandang sebagai saham yang memberikan lebih banyak dividend kepada pemegang sahamnya dari pada saham lain di industri serupa.
6. Debt to Equity Rasio (DER)
Debt to Equity Ratio (DER) adalah ukuran untuk menilai seberapa besar perbandingan antara utang dan modal yang dimiliki oleh pemegang saham suatu perusahaan. DER bisa digunakan sebagai salah satu cara menghitung harga wajar saham sekaligus memperkirakan risiko ke depan. Semakin rendah DER, semakin rendah risiko perusahaan terhadap ketidakmampuan membayar utangnya.
Dalam menilai harga saham menggunakan DER, investor perlu membandingkan DER perusahaan yang bersangkutan dengan DER perusahaan sejenis dalam industri yang sama.
DER = total utang /ekuitas
Misalnya, saham ADRO memiliki total utang sebesar Rp47.304.000.000.000 dan ekuitas sebesar Rp104.563.000.000.000 maka DER saham ADRO adalah sebagai berikut:
DER = 22.174.000.000.000/104.563.000.000.000
DER = 0,21
Angka ini kemudian dapat dibandingkan dengan DER perusahaan sejenis untuk menentukan apakah saham ADRO dihargai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Diketahui, pada periode yang sama misalnya DER perusahaan sejenis adalah 0,47, maka ADRO bisa dinilai lebih murah atau memiliki risiko kebangkrutan yang lebih rendah ke depannya.
7. Cara Menghitung Harga Wajar Saham Ala Benjamin Graham
Terakhir namun tak kalah efektif, ada cara menghitung harga wajar saham dengan metode yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham. Berikut ini adalah rumusnya:
Harga wajar saham = √22.5 x EPS x BVPS
Dalam rumus ini, nilai fundamental saham dipertimbangkan dengan memperhitungkan laba per saham dan nilai buku per saham perusahaan. Jika hasil perhitungan melebihi nilai wajar, itu menunjukkan bahwa harga saham tersebut mahal. Sebaliknya, jika hasilnya di bawah nilai wajar, maka harga saham dianggap murah.
Angka Graham, yang merupakan bagian penting dari rumus ini, dinormalisasikan dengan faktor 22,5. Faktor ini didasarkan pada prinsip Graham bahwa batas harga saham seharusnya tidak melebihi 15x dari PER dan PBV tidak lebih dari 1,5x. Dengan menggunakan rumus di atas, dapat dihitung harga wajar saham.
Sebagai contoh, jika kita menggunakan harga saham, laba per saham, dan nilai buku per saham UNVR pada tanggal 26 April 2024 seperti berikut ini:
Harga saham: Rp2590
EPS: 151,90
BVPS: 126,98
Harga wajar = √22.5×151,9×126,98
Harga wajar = Rp658
Berdasarkan perhitungan di atas, harga wajar saham UNVR seharusnya adalah Rp.658 per lembar saham. Hal ini menunjukkan bahwa harga saham UNVR pada saat itu telah melampaui harga wajarnya berdasarkan analisis Graham Number.
Sudah Tahu Cara Menghitung Harga Wajar Saham?
Nah, itu dia beberapa cara menghitung harga wajar saham yang bisa Kawan Cerdas gunakan untuk menilai kondisi fundamental suatu perusahaan. Namun, perlu diingat untuk menilai harga wajar saham, Kawan Cerdas juga perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain di luar perhitungan di atas seperti kondisi industri, dsb.
Selain itu, baca juga tulisan seputar keuangan lainnya dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti di blog cerdascuan.com sekarang juga!