Kamu pasti sering dengar istilah “Jangan taruh semua telur di satu keranjang”, kan? Nah, itu analogi paling pas buat ngomongin soal diversifikasi investasi. Apalagi di 2025, dengan kondisi ekonomi yang nggak selalu bisa diprediksi, diversifikasi portofolio itu jadi langkah cerdas supaya kamu nggak rugi besar kalau salah satu investasimu lagi jeblok.
Tapi gimana, sih, cara yang pas untuk membagi investasi? Yuk, kita bahas cara sederhana biar kamu bisa mulai diversifikasi dengan nyaman dan aman di bawah ini!
Baca juga: 1 Lot Saham Berapa Lembar? Ini Arti, Contoh, dan Tujuannya
Apa Itu Diversifikasi Investasi?
Diversifikasi investasi itu ibarat bikin mix tape zaman dulu. Kamu nggak cuma isi satu genre musik, tapi gabungin beberapa lagu biar suasananya pas. Dalam investasi, diversifikasi berarti kamu menyebar dana ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, properti, hingga emas atau reksadana. Tujuannya? Kalau ada satu yang rugi, yang lain bisa bantu nutup kerugian itu.
Baca juga: Pengertian Budgeting: Fungsi dan Cara Membuatnya Agar Efisien
Strategi Diversifikasi Investasi di 2025
Ada banyak pilihan ‘keranjang’ yang bisa menjadi tempat untuk menyimpan aset investasi. Mulai dari saham, obligasi, properti, emas, reksadana, sampai kripto punya kelebihan tersendiri sebagai instrumen untuk diversifikasi investasi. Yuk, simak risiko, potensi kerugian, dan rekomendasi alokasi dananya berikut ini:
1. Saham: High Risk, High Return
Kalau kamu tipe investor yang suka tantangan, saham adalah pilhan aset yang tepat. Tapi, hati-hati ya, ini instrumen yang risikonya tinggi. Untuk memaksimalkan keuntungan di tengah risikonya, pilihlah saham yang sehat seperti saham-saham blue chip atau saham defensif seperti sektor makanan dan kesehatan.
Jika kamu punya profil risiko yang toleran dengan fluktuasi pasar saham, instrumen ini cocok banget untuk menjadi bagian dari 30% – 40% alokasi investasi kamu. Biasanya, saham menjadi pilihan tepat kalau kamu masih berada di usia produktif.
Baca juga: 15 Daftar Saham Syariah Terbaru 2024: Bisa Bikin Cuan dan Berkah!
2. Obligasi: Aman dan Stabil
Obligasi itu kayak temen yang selalu ada di saat susah. Nggak banyak drama, tapi hasilnya stabil. Pemerintah Indonesia sering terbitin obligasi ritel (ORI) atau sukuk, yang cocok banget buat pemula.
Jika kamu membeli obligasi pemerintah, risiko investasinya cenderung menengah hingga aman karena returnnya dijamin oleh undang-undang. Namun, kalau obligasi yang kamu beli berasal dari korporasi, perlu hati-hati juga dengan risiko gagal bayar dari kreditur, ya!
Sebagai salah satu ‘keranjang’ dalam diversifikasi investasi, obligasi cocok untuk menjadi bagian 20% – 30% alokasi aset kamu. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan penghasilan pasif dari kupon setiap bulan atau kuartal.
3. Properti: Investasi Jangka Panjang
Melakukan diversifikasi ke properti membutuhkan modal yang cukup tinggi. Makanya, aset ini ga cocok untuk semua investor. Namun, dibalik biaya yang harus dikeluarkan aset ini juga menawarkan return yang cukup menggiurkan terutama dalam jangka panjang.
Kalau beli rumah atau apartemen dirasa terlalu mahal, kamu bisa mencoba investasi properti lewat platform crowdfunding. Aset ini cocok untuk menjadi bagian 15% – 20% dari portofolio investasi kalau tujuan finansialmu untuk jangka panjang.
4. Emas: Safe Haven yang Tak Lekang oleh Waktu
Emas adalah pelindung portofolio kamu. Kalau ekonomi lagi nggak stabil, harga emas biasanya naik. Selain itu, sekarang juga sudah tersedia banyak emas digital yang lebih praktis untuk diperdagangkan.
Dengan tujuan untuk menimalisir risiko yang timbul dari investasi, kamu bisa mengalokasikan 15%-20% dari portofolio ke aset ini.
Baca juga: Investasi Tanah atau Emas? Ini Cara Memilihnya Untuk Pemula!
5. Reksadana: Pilihan Buat yang Sibuk
Buat kamu yang nggak punya banyak waktu untuk melakukan analisis pasar, baca laporan keuangan, sampai mantau berita keuangan terbaru, reksadana bisa menjadi solusi yang tepat. Pada aset ini, manajer investasi bakal bantu mengelola dana kamu ke instrumen tertentu mulai dari saham, obligasi, hingga pasar uang.
Jadi, kamu nggak perlu ribet lagi dan semua aset kamu akan dikelola oleh manajer yang profesional. Jika kamu merasa ini aset yang cocok dengan profil investasimu, reksadana cocok untuk menjadi bagian dari 10% – 20% portofolio kamu.
Baca juga: 10 Reksadana Pendapatan Tetap Terbaik 2024: Return Sampai 8,41%!
6. Crypto: Jangan Lupa Risiko!
Kalau kamu tipe investor yang suka dengan hal baru, aset crypto bisa menjadi pilihan yang menarik. Tapi, perlu diingat kalau fluktuasi dalam aset ini sangat ekstrim. Jadi, pastikan kamu cuma menggunakan uang yang nggak nimbulin masalah kalau hilang ketika masuk ke aset ini.
Alokasi 5% – 10% dari total portofolio sudah cukup jika tujuannya hanya untuk diversifikasi investasi .
Gimana Cara Mulai Diversifikasi Investasi?
Setelah memahami apa itu diversifikasi investasi dan pilihan aset yang cocok, kamu juga mungkin penasaran, gimana cara mulai melakukannya? Yuk, simak langkah-langkah sederhana berikut ini:
1. Tentukan Tujuan Investasi
Langkah pertama yang penting banget untuk kamu lakukan dalam mendiversifikasi portofolio adalah menentukan tujuan investasi. Tentukan terlebih dahulu apa yang mau kamu capai dari investasi saat ini? Apakah sebagai dana pensiun, dana untuk membeli rumah, atau cuma mencari cuan tambahan?
Tujuan ini penting untuk menentukan seberapa agresif gaya investasi kamu ketika melakukan diversifikasi.
2. Cek Profil Risiko
Memahami profil risiko juga tak kalah penting dalam memulai diversifikasi investasi. Profil risiko investasi adalah penilaian terhadap kemampuan dan kenyamanan investor dalam menghadapi risiko dan fluktuasi nilai investasi.
Kamu tipe yang tenang kalau pasar lagi turun, atau langsung panik? Kalau gampang cemas, kamu mungkin lebih cocok untuk berinvestasi dalam aset yang stabil seperti obligasi atau emas.
3. Mulai dengan Nominal Kecil
Saat ini, investasi bukan lagi barang mahal yang cuma bisa dijangkau sama kalangan-kalangan tertentu. Ada banyak platform yang sekarang mengizinkan penggunannya untuk berinvestasi mulai dari Rp10.000 aja! Murah banget, kan?
Makanya, nggak ada alasan lagi untuk menunda investasi kamu cuma karena baru punya modal sedikit. Yuk, mulai bangun portofoliomu dengan nominal kecil!
4. Review Portofolio Secara Berkala
Jangan biarkan investasi kamu berjalan sendiri tanpa tujuan yang jelas. Meski kamu berinvestasi di aset yang aman, atau berinvestasi di reksadana yang dikelola oleh manajer keuangan, tetap pantau dan review portofolio kamu secara berkala.
Periksa alokasi investasi kamu setiap 6 bulan atau setahun sekali. Jangan ragu juga untuk melakukan rebalancing portofolio agar semuanya tetap on track dengan tujuan finansial yang mau dicapai.
Diversifikasi Investasi Bukan Berarti Ribet
Diversifikasi investasi itu nggak harus bikin kamu pusing. Mulai dari instrumen yang paling kamu pahami dulu, lalu perlahan tambahkan jenis investasi lain. Ingat, tujuan utamanya adalah menjaga keseimbangan dan mengurangi risiko.
Jadi, siap bangun portofolio 2025-mu? Jangan lupa, apapun langkah yang kamu ambil, pastikan kamu nyaman dan paham risikonya. Karena investasi terbaik adalah yang bikin kamu tidur nyenyak di malam hari.
Yuk, lanjut baca tulisan seputar keuangan lainnya dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti di blog cerdascuan.com sekarang juga!